Mungkin Benar Cinta itu Gila

16 Apr 2012

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak mengerti apa arti komitmen. Yang saya tahu saya jatuh cinta pada dua hati yang tak bisa dipertemukan, juga tak bisa dipertukarkan. Saya berkomitmen pada keduanya. Tapi bagi logika publik, itu justru tak berkomitmen pada semuanya. Bagaimana mungkin seseorang harus mencintai dua hati dalam waktu bersamaan dan berkomitmen untuk menjalin tali kasih yang diikat oleh cinta dan kasih sayang. Jaman sekarang, poligami memang tak pantas karena akan menyakiti keduanya, bukan meneduhkan semuanya. Aku tak bermaksud poligami. Tapi aku tak bisa meninggalkan semuanya, bukan karena tamak. Tapi karena perasaanku lebih dari sekedar kedekatan pertemanan atau perkawanan. Ada perasaan dan tali kasih yang jauh melompat ketimbang hanya sebatas pertemanan. Aku juga tak mengerti kenapa Tuhan mengikat hatiku pada dua hati yang sebetulnya saling meniadakan, bukan saling melengkapi.

Aku hanya berpikir, andai saja dua karakter perempuan yang aku cintai ini dapat menyatu dalam satu sosok perempuan, aku mungkin akan lebih bangga hidup di dunia ini ketimbang dimasukkan ke surga yang tanpa ridha-Nya. Aku mungkin akan menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini karena tercipta sebagai orang beruntung yang mempunyai sosok perempuan yang tak ubahnya adalah malaikat surgawi. Tapi sayang, karakter-karakter itu terpisah ke dalam dua sosok perempuan. Antara yang satu dengan yang lainnya saling meniadakan, saling membasmi.

Memang tak mudah menjelaskan apa yang aku rasakan ini pada publik secara umum karena mereka terbiasa dengan logika umum yang seakan serba matematis, meski kehidupan bukan angka matematika. Aku sadar memang tak mungkin mendapati dua perempuan itu karena harus dibenturkan dengan perasaan yang saling meniadakan. Meskipun dua sosok perempuan ini bersepakat untuk saling menopang dan melengkapi, aku tak punya niatan sama sekali untuk berpoligami. Bagiku, poligami adalah hal yang harus dijauhi, meskipun ajaran agama yang aku anut tidak mengharamkannya. Bagiku, hanya ada satu perempuan yang akan menerangi cahaya kehidupanku.

Pada akhirnya, karena dua hati tak mungkin disatukan atau kalau pun bisa disatukan, tidak akan membuahkan kebahagiaan sejati, aku dituntut untuk memilih salah satu dari keduanya. Pilihan dan keputusan memang tak akan memuaskan semua orang. Tapi setidaknya pilihan itu meneguhkan sikap kita selaku manusia yang punya keterbatasan. Pilihan mengukuhkan prinsip kita dalam hidup. Pilihan menguatkan hati dan komitmen. Karena walau bagaimanapun, apalah arti sebuah komitmen jika membunuh dan menyakiti dua hati yang sebetulnya sangat aku cintai. Apalah sebuah komitmen jika pada akhirnya harus membuahkan darah dan air mata.

Jika harus memilih, berarti harus ada satu orang yang secara sengaja aku sakiti demi membahagiakan kekasihku yang lain. Kebahagiaan kekasihku ini secara otomatis harus menginjak tubuh perempuanku yang satunya. Kebahagiaan kekasihku ini dibangun di atas penderitaan orang lain. Tapi inilah hidup karena aku tak mungkin membelah diri menjadi dua bagian.

Mungkin narasi di atas bagi sebagian orang terlalu hiperbolis sehingga menganggap hanya ada aku dan dua kekasihku yang sangat aku cintai di dunia ini. Padahal, laki-laki dan perempuan bertaburan di jagat raya ini. Banyak pilihan dihidangkan. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyombongkan diri. Yang saya tahu, dua perempuanku ini sama-sama ngotot mempertahankan diriku untuk meraih cinta sejati mereka. Bagi mereka, aku adalah kekasih sejatinya yang harus dipertahankan.

Bagi sebagian orang kenyataan ini mungkin tak mungkin. Tapi inilah yang terjadi padaku. Perempuanku yang satu pernah aku akan jadikan adek. Tapi dia mati-matian mempertahankan cintanya padaku. Bahkan, dengan tegas ia katakan,boleh nikah sama orang lain asal jangan tinggalkan dirinya. Dia rela membakar diri demi mempertahankan cintanya padaku. Hal yang sama juga terjadi pada cewekku yang lain. Meski aku sudah bilang akan segera menikah dengan kekasihku, cewekku ini tetap menaruh harapan besar padaku.

Pada satu sisi aku bangga karena ada dua perempuan yang tulus mencintai diriku apa adanya. Akan tetapi aku juga merasa sebagai laki-laki paling rendah karena tak bisa membahagiakan orang-orang yang aku cintai dan dua perempuan yang mencintaiku. Aku hanya mampu tebar pesona tapi tak mampu membahagiakan mereka yang sudah terlanjur catuh cinta padaku. Aku sampai pada pertanyaan, kenapa Tuhan membuat skenario semacam ini pada hidupku? Bukankah cinta dan kasih sayang juga berangkat atas idzin-Nya? Kenapa Tuhan mengidzinkan mereka mencintaiku denagn jalan seperti ini? Dan kenapa aku harus mencintai dua hati yang tak bisa disatukan?


TAGS cinta


-

Author

Follow Me