Catatan Kecil Diskusi Ekonomi Islam

10 Feb 2012

Mengikuti diskusi panel tentang “bank syariah di Indonesia dalam merespon tantangan ekonomi global” di universitas Bakrie. Saya hanya mengerti beberapa apa yang para pembicara ungkap. Saya menyadari kapasitas bahasa inggris saya masih kurang memadai.

Tapi yang saya pahami, diskusi ini membincang ekonomi Islam dan optimis ekonomi Islam dapat berkembang di masa yang akan datang. Pertanyaannya kemudian, benarkah itu ekonomi Islam bebas dari transaksi konvensional?

Pertanyaan itu pasti tidak mudah dijawab. Tapi,kenyataan di masa lalu menunjukkan bahwa ekonomi Islam masih bersentuhan dengan saham,bank dan transaksi konvensional. Hal itu mungkin ekonomi Islam belum kuat sehingga jika ingin menunjukkan eksistensinya, mau tidak mau ia harus bersentuhan dengan sistem ekonomi konvensional.

Tapi ke depan, ketika ekonomi Islam sudah establish dan kuat, tidak menutup-kemungkinan ekonomi Islam akan mandiri dan mampu menjalankan sistem ekonominya sendiri tanpa campur tangan sistem ekonomi konvensional.

Saya juga menduga, keinginan investor asing yang berasal dari dunia Barat itu, mungkin karena sistem ekonomi yang mereka terapkan tidak mampu menjawab kebutuhan yang ada. Sistem ekonomi global saat ini merugikan yang lain dan menguntungkan lebih banyak golongan tertentu.

Hal ini bisa dilacak dari saham dan perdagangan mata uang (forex-index) konvensional yang hanya bergerak di pusaran pencarian keuntungan semata dan mengabaikan pertumbuhan ekonomi di sektor ril. Anehnya, ekonomi semacam ini malah dijadikan patokan pertumbuhan ekonomi ril di masing-masing Negara.

Sistem ekonomi semacam ini, kalau dalam Islam lebih dihukumi sebagai praktek riba. Saya tak tahu persis bagaimana beroperasinya perdagangan mata uang seperti forex dan index. Tapi ketika ada yang menang, maka ada yang kalah. Beberapa ulama berpandangan dengan tegas menyatakan hal semacam itu sebagai praktek judi.

Sementara dalam ekonomi Islam berusaha mempraktekkan kerangka etik-moral agama di dalam menjalankan roda ekonomi. Hubungan antara pemberi modal dan pelaku usaha adalah simbiosis mutualisme. Jika pelaku usaha mendapat keuntungan besar, maka pemodal mendapat keuntungan yang besar pula. Begitu juga sebaliknya. Sistem semacam ini oleh Islam kemudian disebut sebagai mudharobah (sistem bagi hasil).

Paling tidak, transaksi semacam ini dapat dilakukan di sistem ekonomi syariah dalam kontek perbankan. Berbeda dengan sistem ekonomi konvensional yang tidak mau tahu kondisi ril pelaku usaha dan tidak mau mengerti pemberi modal. Sebab,angka keuntungan atau jumlah pembayaran sudah dipatok lebih dahulu dalam sistem ekonomi konvensional. Padahal, usaha itu tidak seperti angka matematis yang angkanya bisa dipatok dengan mudah dan pasti

Saya bukan ahli ekonomi. Tapi obrolan saya dengan Direktur Bank Syariah Mandiri sedikit banyak memberi suntikan informasi kepada saya. Ekonomi apapun yang akan survive ke depan, menurut saya, yang mampu mengakomudasi kepentingan pemilik modal dan pelaku usaha secara proporsional dan seimbang


TAGS ekonomi syariah


-

Author

Follow Me