Santrinya Banyak Menjadi Penulis

4 Feb 2012

Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura

Pesantren Annuqayah telah melahirkan banyak santri yang mampu menorehkan buah pikiran mereka dengan tinta emas kanvas peradaban. Mereka menjadi penulis kreatif dan sering memenangkan lomba jurnalistik, baik tingkat lokal atau nasional. Melalui modal tulisan, beberapa santri Annuqayah mendapat beasiswa. Bahkan beberapa dari mereka menjadikan kekuatan pikiran dan tulisan sebagai sumber penghasilan, menjadi penulis buku, kontributor tulisan di media atau menjadi penerjemah.

Tentu saja prestasi dan kebiasaan menulis santri ini dimulai sejak mereka nyantre di Pesantren. Salah satu deretan nama alumni Annuqayah yang sukses menjadi penulis adalah Mohammad Musthofa, M. Faizi L. Kaelan, Khodri Ariev, Maimun Syamsuddin, Jamal D. Rahman ,Zuhaidi RB, Zaiturrahim RB, Achmad Fawaid, Mohammad Fayyadl, Badrus Shaleh, Ahmad Badrus Shalihin, Abdurahman, Fawaidurrahman,Wildan Hefni, Mohammad Takdir Ilahi, dan yang lainnya.

Pada awal tahun 2012 ini, alumni Annuqayah, Wildan Hefni meraih penghargaan sebagai santri produktif dari Kementrian Agama. Penghargaan tersebut diperoleh Wildan Hefni bukan tanpa alasan. Santri Annuqayah yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang ini mengatakan kepada Pelita dirinya mengirimkan tulisan-tulisan yang sudah dimuat di koran, baik lokal atau nasional ke Kementrian Agama. Jumlah tulisan yang dikirim sebanyak 120 tulisan dan bersaing dengan santri-santri lain yang juga berprestasi se-Indonesia, baik di dalam dan luar negeri. Saya kirim sekitar 120 rekap tulisan saya yang selama 2 tahun telah dimuat di Koran, ujar Wildan kepada Pelita baru-baru ini.

Selain Wildan, santri Annuqayah yang beberapa kali memenangkan lomba jurnalistik adalah Mohammad Takdir Ilahi. Takdir pernah meraih juara Ahmad Wahib Award, pemenang lomba LKTI tingkat nasional, pemenang lomba penulisan esai Islam dan Terorisme, STAIN Purwokerto, dan masih banyak lagi deretan prestasinya di dunia kepenulisan. Di samping aktif mengikuti lomba-lomba, tulisan-tulisan Takdir juga banyak tersebar di berbagai media, baik cetak maupun online, dari skala lokal dan nasional.

Sementara alumni Pesantren Annuqayah yang menjadi penulis buku antara lain Mohammad Fayyadl, Mohammad Takdir Ilahi, Jamal D Rahman, Faizi, dan lain-lain. Dan santri yang menjadi penerjemah antara lain, Maimun Syamsuddin, Khodri Ariev, Achmad Fawaid,dan yang lainya. Prestasi santri dan alumni Annuqayah semacam ini tentu sangat ditopang oleh kultur Pesantren sejak mereka nyantri di Annuqayah.

Meskipun Annuqayah secara institusional tidak memberi penekanan khusus tentang kepenulisan, tapi Annuqayah sejak lama telah mempunyai kultur di ranah ini. Di bidang kepenulisan, banyak sekali klub menulis Pesantren Annuqayah, baik sastra atau ilmiah dan tulisan populer. Masing-masing daerah di Pesantren ini mempunyai klub menulis tersendiri. Banyak diklat dan workshop kepenulisan digelar dengan mendatangkan para tokoh dan pakar. Yang ngisi diklat atau workshop jurnalistik biasanya sastrawan, wartawan dan para pakar, seperti D Zawawi Imron (sastrawan), Abrari (wartawan) dan tokoh lainnya, ucap Mohammad Musthofa selaku pengasuh muda Annuqayah.

Mohammad Musthofa yang merupakan lulusan UGM Jogja ini mengaku menulis, baginya, bagian dari kehidupan yang tak bisa dihindari. Di Annuqayah, Mohammad Musthofa salah satu pelopor lahir dan berkembangnya dunia kepenulisan. Sekarang ini Musthofa dan LPM Instika Annuqayah didukung oleh santri-santri mendorong efektivitas pemberitaan tentang Annuqayah. Hampir tidak ada kejadian di Annuqayah yang lepas dari pantauan dunia kepenulisan. Blog Annuqayah di update setiap hari. Meski berbentuk blog, tapi manfaatnya kan sangat besar. Dan sekarang ini sudah lumayan banyak santri yang mengirimkan berita dari berbagai daerah di Annuqayah, tegas Musthofa

Selain blog yang dikelola secara serius, Annuqayah juga mengembangkan penulisan dan penerbitan mading, majalah, tabloid dan buletin. Beberapa daerah di Pesantren ini masing-masing mempunyai majalah tersendiri, seperti Annuqayah Latee memiliki majalah Al-Afkar dan buletin Variez, daerah Lubangsa Raya majalah Muara dan Lubangsa Selatan Tabloid Akselerasi. Di tingkat pendidikan formal, khususnya di MA atau sederajat penerbitan majalah atau buletin juga digenjot dan ditingkatkan agar santri dapat mengembangkan skill menulis mereka. MA Tahfidz memiliki majalah Infitah dan terbit setiap 2 minggu sekali, tegas Abdurahman Ali selaku TU MA Tahfidz kepada Pelita, Rabu (25/01).

Dunia kepenulisan di Pesantren ini didukung oleh koleksi buku-buku di masing daerah dan di Perpustakaan Annuqayah Pusat yang lumayan kaya dan memadai. Setiap bulan Annuqayah menambah buku-buku baru untuk koleksi perpustakaan. Perpustakaan di Annuqayah juga ada di setiap jenjang pendidikan formal, mulai dari Madrahsah lbtidaiyah hingga Perguruan Tinggi.

Pada prinsipnya, Pesantren Annuqayah hanya sebatas wadah kecil dan terbatas yang tidak mungkin mencetak santri menjadi ahli dan profesional. Sebaliknya, profesionalitas santri dalam hal-hal tertentu akibat pengembangan mereka sendiri. Annuqayah hanya memberi kebebasan kepada para santri untuk menentukan minat dan bakat mereka dan mengembangkannya sendiri, baik melalui proses personal-individual atau melalui kegiatan ekstra kerikuler Pesantren.

Ada banyak sekali kegiatan ektra kurikuler di Pesantren Annuqayah , salah satunya; jam tyatul qurra, kursus menjahit, sanggar seni, fotografi, kursus mengetik dasar, kursus komputer, olahraga, pramuka, organisasi, sanggar sastra, dan lain-lain. Bagi santri, meski mereka tidak difasilitasi secara lengkap dan diarahkan seperti di pesantren-pesantren modern, tapi kebebasan dan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan bakat dan minat sudah lebih dari cukup.

Maka tak heran banyak seakali prestasi santri Annuqayah, mulai dari prestasi di dunia kepenulisan, pidato, puisi, karikatur, kaligrafi, debat dan yang lainnya. Salah satu santri Annuqayah yang baru-baru ini mendapat penghargaan sebagai santri teladan dari Mahad Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) UIN Malik Ibrahim Malang adalah Dewi Nurhayati, alumnus Posantren Annuqayah Latee, ucap Musthofa

Pesantren Annuqayah mempunyai beberapa daerah dan setiap daerah memiliki otoritas dan kebebasan penuh dalam pengelola daerahnya masing-masing. Daerah-daerah di Annuqayah antara lain, daerah Latee, Nirmala, Lubangsa Raya, Lubangsa Selatan, al-Furqan, Kebun Jeruk, Sawajarin, Kusuma Bangsa, dan lain-lain. “Penekanan di setiap daerah tergantung kebijakan daerah masing-masing, ada daerah yang lebih mengutamakan ilmu fikih, ilmu hadist, wawasan ke-modern-an dan semacamnya. Meski begitu, daerah-daerah di Annuqayah tetap satu-kesatuan di bawah Yayasan Annuqayah, ” tutur Musthofa lebih lanjut.

Meskipun Pondok Pesantren Annayuqayah terpecah menjadi beberapa daerah, dalam hal pengelolaan pendidikan formal mulai dari tingkat TK, MI, MTs, MA hingga perguruan tinggi dikelola bersama oleh Yayasan Annuqayah dan kebijakan-kebijakan strategis tentang Annuqayah regulasinya diputuskan di tingkat Yayasan. Para santri dari pelbagai daerah, melalui pendidikan formal, dapat saling kenal dan saling bretemu.

Jenjang Pendidikan formal di Pesantren ini mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Untuk tingkat TK, Ml dan MTs, di Annuqayah belum ada penjurusan karena belum dianggap penting. Penjurusan di Pesantren ini dimulai dari tingkat MA/Sederajat hingga perguruan tinggi. Sementara fasilitas penunjang belajar-mengajar yang tersedia di Annuqayah,salah satunya berupa laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium IPA, perpustakaan daerah dan pusat. (Abd Rahman)

Tulisan ini dimuat di Harian Pelita, Jum’at (27 Januari 2012)


TAGS


-

Author

Follow Me