Kebebasan : Sebuah Catatan Harian

21 Nov 2011

Sewaktu saya nonton bola di Gelora Bung Karno semi final antara Indonesia dan Vietnam, supporter dengan bebas mengekspresikan diri mereka tanpa ada rasa takut sedikitpun. Saya yakin sebelum Indonesia ini merdeka, kebebasan semacam ini tak mungkin diperoleh. Hemat saya, kebebasan mengekspresikan diri yang menggelitik orang seperti Hatta, Soekarno, Tan Malaka dan yang lainnya untuk merebut kemerdekaan meski dengan darah dan air mata sebagai kompensasinya.

Kebebasan itu mahal harganya. Demi memperoleh kebebasan, Indonesia rela berjuang menggadaikan nyawa melawan imperialisme kolonial Belanda agar mereka dapat merasakan aura kebebasan. Orang memaknai kebebasan macam-macam. Bagi saya, kebebasan itu berbeda dengan keliaran. Kebebasan itu tidak kemudian menghalalkan segala hal. Dalam kaca mata sebagian orang, kebebasan seram dan menakutkan karena berujung pada tindakan free sex, melawan norma agama dan sosial, dan semacamnya.

Saya bagian dari orang yang percaya bahwa kebebasan itu bagian terpenting dalam hidup. Hal ini karena hanya dengan kebebasan kita dapat membentuk diri, mengekspresikan segala bentuk potensi diri, mengembangkan minat dan bakat. Bisa dibayangkan jika seseorang dalam hidupnya didikte oleh orang lain. Prilaku dan cita-cita ditentukan orang lain. Di mana rasa kemanusiaan kita yang utuh? Saya pikir orang yang didikte itu separuh dari kemanusiaan mereka hilang. Sebab, mereka tak dapat menggunakan anugerah terbesar yang Tuhan berikan berupa akal dan pikiran.

Akal dan pikiran akan sangat berguna ketika aura kebebasan diberikan. Dengan akal pikiran, kita bebas mencari dan menganalisa mana yang baik dan yang buruk. Melalui akal pikiran, manusia dapat mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya sehingga ia dapat berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Tuhan memberikan akal pikiran kepada manusia agar ia menjadi makhluk terbaik dibanding makhluk Tuhan lainnya. Melalui semangat kebebasan inilah, masa depan dunia Tuhan titipkan kepada manusia dan tak dititipkan kepada malaikat yang penakut dan hhanya tunduk kepada Tuhan.

Apa manusia tak bisa menjadi malaikat? jika manusia tak dapat seperti malaikat, Tuhan tak mungkin menitipkan amanah sebagai khalifatullah fi-al ardl kepada manusia. Tuhan tahun bahwa dengan semangat kebebasan manusia dapat menjalani takdir mereka sendiri. Kebebasan manusia dapat mengembangkan peradaban dan mendorong kemajaun. Sejarah membuktikan betapa ketidak-bebasan sebagaimana abad pertengahan di Barat menciptakan mala petaka kemanusiaan, bukan peradaban yang diraih, tapi kebiadaban dan menentang kemanusiaan.

Dalam tradisi Islam juga tak dapat dipungkiri betapa arah dan visi sakral yang dipaksakan berujung pada penistaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Betapa tidak, kasus yang menimpa Imam bin Hambal, salah satu ulama madzhab fiqh, hampir dimutilasi gara-gara faham yang dipaksakan, faham mutazilah. Tapi dengan semangat kebebasan dan kecerdikan, Imam bin Hmabal selamat dari ancaman besar itu.

Kebebasan dapat melahirkan kecerdikan, kedewasaan dan mengarahkan kita sebagai pribadi yang utuh menjadi manusia. Kebebasan mahal harganya karena terkait dengan kualitas kita sebagai manusia.


TAGS


-

Author

Follow Me