Mewujudkan Masyarakat Islami dan Madani

18 Nov 2011

Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur

Abd. Rahman

pontrensidogiri-1PESANTREN sejatinya tidak hanya memikirkan bagaimana pengembangan lembaga pendidikan - an sich, tapi pesantren harus memikirkan kemandirian ekonomi. Tidak mungkin sebuah lembaga pendidikan akan kuat tanpa didukung oleh finansial yang cukup. Kemandirian ekonomi pesantren dapat membawa manfaat besar bagi pesantren dan masyarakat. Inilah yang dilakukan Pondok Pesantren Sidogiri melalui Kopontren Sidogiri.

Pondok Pesantren Sidogiri saat ini memperluas usaha di bidang ekonomi untuk menopang kekuatan pesantren. Puluhan unit Usaha berhasil dirintis dan dikembangkan oleh Pesantren hingga saat ini. Jumlah Unit Usaha Pesantren sampai saat ini berjumlah sekitar 40-an. Tahun 2011 ini kita membuka unit di Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Pasuruan, kata Ketua Pengurus Pesantren Sidogiri, Baihaqi Juri kepada Pelita,Kamis (17/11). Menurut Baihaqi,jumlah unit usaha yang dibuka di Sumenep sebanyak dua unit, Pamekasan satu unit, Sampang tiga unit dan Pasuruan tiga unit.

Di samping itu, Pesantren Sidogiri juga mengabdi untuk sosial-kemasyarakatan. Yayasan Bina Saadah Sidogiri (YBSS) merupakan lembaga yang didirikan untuk meningkatkan kiprah Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang sosial-kemasyarakatan. Untuk meneguhkan kemanfaatan di masyarakat, Yayasan Bina Saadah Sidogiri (YBSS) Pondok Pesantren Sidogiri mempunyai empat sub lembaga, yaitu; Laziswa Sidogiri, Darul Aitam Sidogiri Surabaya (DAS-Surabaya), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Shafa Marwah, dan Darul Khidmah Sidogiri (DKS).
Sementara kegiatan di dalam Pesantren, kegiatan santri di Pesntren Sidogiri dibagi menjadi dua macam, kegiatan Mahadiyah dan kegiatan Madrasiyah. Yang dimaksud dengan kegiatan Mahadiyah adalah kegiatan yang harus diikuti oleh semua santri yang ada di Pesantren. Sedang kegiatan Madrasiyah merupakan kegiatan yang diikuti para santri dan siswa yang tidak mondok di Pesantren (kalong).

Kegiatan santri dimulai dari jam 03.30 hingga jam 00.00 istiwa. Meski demikian, ada waktu istirahat untuk para santri. Salah satu kegiatan santri di Pondok Pesantren Sidogiri adalah Tahajud dan Witir Bersama, Salat Subuh Berjamaah, Salat Dhuha Berjamaah, Pengajian Kitab Kuning, Musyawarah, menggaji al-Quran, Baca Salawat, Baca Burdah, Baca Diba, Gerak Batin, Ronda Malam, Baca Munjiyat, Olahraga, Tahfizh al-Quran,dll.

Kegiatan Mahadiyah dimaksudkan tidak saja mendidik santri agar cerdas secara keilmuan, tapi juga berupaya menanamkan nilai dalam prilaku kehidupan para santri. Shalat tahajut dan gerak batin misalnya. Gerak batin ini diisi dengan membaca Munjiyat dan diakhiri dengan membaca Hizbul-Futuh. Kegiatan ini bertempat di masjid, diikuti seluruh santri sesuai urutan Daerah. Waktunya dari jam 11.30 s.d 00.00.

Kegiatan Madrasiyah merupakan aktivitas siswa dengan mengikuti sistem klasikal (sistem kelas), baik santri Sidogiri ataupun siswa yang belajar di sekolah di Pesantren. Kegiatan Madrasiyah antara lain; masuk kelas, musyawarah kelas, pembinaan baca kita kuning, kursus ilmu jiwa, olahraga,dan lain lain. Ada juga kegiatan keorganisasian dan pemupukan minat, skill dan bakat seperti OMIM (Organisasi Murid Intra madrasah) Unit kegiatan Mading, penerbitan majalah,kursus komputer,dan lain-lain.

Semua aktivitas Madrasiyah ada dalam satu lembaga Madrasah Miftahul Ulum. Pendidikan di MMU ini dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu; Sifir, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Di samping itu, ada jenjang pendidikan persiapan khusus bagi santri atau murid baru yang mendaftar setelah bulan Syawal. Jenjang pendidikan ini bernama Istidadiyah. Jenjang ini menggunakan program khusus dan diselesaikan hanya dalam waktu 1 tahun.

Di Pondok Pesantren Sidogiri, tempat tinggal santri terbagi dalam beberapa blok atau daerah. Saat ini kurang lebih ada tiga belas blok atau daerah di mana setiap daerah mempunyai ciri khas khusus, seperti Daerah A ditempati oleh santri yang mengikuti program menghafal Al-Quran, Daerah H, K dan L khusus bagi santri yang ikut program Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Daerah Z hanya dihuni oleh santri yang menjadi petugas koperasi,dll

Salah satu keunggulan di Pesantren ini adalah perpustakaan yang sangat lengkap dan cukup representatif. Karena perpustakaan Sidogiri memang disiapkan sebagai media untuk memperkaya khazanah keislaman, sekitar 70 persen koleksi Perpustakaan Sidogiri adalah kitab, buku, majalah, kaset dan CD-CD keislaman. Selebihnya, terdapat buku-buku seputar kedokteran, bahasa, sastra, sosial, ekonomi, politik, dan lain lain.
Bagi Pondok Pesantren Sidogiri, perpustakaan bukan hanya tempat rujukan dan sumber referensi, tapi perpustakaan juga dapat menjadi sarana pembelajaran alternatif. Oleh karena itu, Perpustakaan Sidogiri mendapat suntikan dana yang lumayan besar dari pihak Pesantren.

Awalnya, Perpustakaan Sidogiri didirikan sangat sederhana. Di Sekretariat Pesantren Sidogiri pada waktu itu terdapat sebuah rak buku dan kitab, disediakan agar dibaca oleh santri yang membutuhkannya. Namun dalam perjalanannya, Perpustakaan Sidogiri terus berkembang sejak KH. Cholil Nawawie mewakafkan seluruh kitabnya untuk para santri. Kitab-kitab beliau itu kemudian diletakkan di Perpustakaan.

Perpustakaan Pesantren Sidogiri diproyeksikan sebagai perpustakan pesantren terbesar di Indonesia. Para pengelola Pepustakaan tidak saja menambah jumlah koleksi di dalam perpustakaan, tetapi juga mengadakan kerjasama dengan perpustakaan luar, seperti perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, Universitas Gajah Mada Jogjakarta dan lain-lain.

Sampai saat ini, Perpustakaan Sidogiri tidak hanya menjadi rujukan santri Sidogiri. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang sedang menyelesaikan datang ke Perpustakaan Sidogiri untuk mencari kelengkapan referensi. Menurut kabar dari orang yang pernah keliling ke pesantren-pesantren, Perpustakaan Sidogiri adalah Perpustakaan terbesar di Indonesia,papar Baihaqi.
Perkembangan Pesantren

Mengingat Pesantren ini sudah berdiri lama dan belum mengenal ilmu administrasi ketika itu, ada semacam perdebatan terkait tahun pendiriannya. Versi pertama menyatakan Pondok Pesantren Sidogiri didirikan pada tahun 1718. Namun versi lain dikatakan Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Versi kedua ini yang dijadikan patokan oleh Pesantren sehingga tahun 1745 menajdi dasar untuk melaksanakan ulang tahun Pesantren setiap tahunnya.

Menurut catatan yang sering dipteringati, Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1745. Kalau yang tidak sering diperingati, ya tahun 1718, tutur Baihaqi. Menurut Baihaqi, Pesantren Sidogiri sampai saat ini telah berusia 272 tahun dengan jumlah santri putra sekitar 5230-an dan santri putri sekitar 4000-an orang.
Sebelum dijadikan Pesantren, daerah Sidogiri awalnya adalah hutan belantara. Sidogiri dipilih untuk dibabat oleh Sayid Sulaiman dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan membawa berkah. Sayyid Sulaiman adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban. Beliau membabat dan mendirikan Pondok Pesantren di Sidogiri dibantu oleh Kiai Aminullah.

Ayah pendiri pesantren Sidogiri (Sayid Sulaiman) bernama Sayid Abdurrahman, seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya bernama Syarifah Khodijah, putri Sultan Hasanuddin Sunan Gunung Jati. Singkatnya, dari garis ibu, Sayid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati.

Selama beberapa tahun sejak Pesantren Sidogiri berdiri, pengelolaan Pondok dipegang oleh seorang kiai (pengasuh). Namun di bawah kepemimpinan KH. Cholil Nawawie pengelolaan Pesantren Sidogiri berubah dari perseorangan menjadi kolektif kelembagaan. Setelah usul itu diterima dan disepakati, dibentuklah satu wadah yang kemudian diberi nama Panca Warga di mana para anggotanya terdiri dari beberapa putra KH Nawawie bin Noerhasan. Mereka adadalah KH Noerhasan Nawawie (1967), KH Cholil Nawawie (1978), KH Siradj Nawawie (1988), KA Sadoellah Nawawie (1972), KH Hasani Nawawie (2001). Lima orang anggota Panca Warga ini berkomitmen dan merasa terpanggil untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri. Mereka bertanggung jawab untuk tetap mempertahankan asas dan idealisme yang diemban Pondok Pesantren Sidogiri.

Setelah tiga anggota Panca Warga wafat, KH Siradj Nawawie mempunyai gagasan membentuk wadah baru yang dianggap lebih baik. Panca Warga kemudian berubah nama menjadi Majelis Keluarga dimana para anggota terdiri dari cucu-cucu KH. Nawawie bin Noerhasan. Rais Majelis Keluarga pertama adalah KH Abd Alim Abd Djalil. Sedang KH Siradj Nawawie dan KH Hasani Nawawie menjadi Penasehat.

Anggota Majelis Keluarga saat ini adalah KH A Nawawi Abd Djalil (Rais/Pengasuh), KH Fuad Noerhasan (Anggota), KH Abdullah Syaukat Siradj (Anggota), KH Abd Karim Thoyib (Anggota), H Bahruddin Thoyyib (Anggota), d. Nawawy Sadoellah (Katib dan Anggota).


TAGS


-

Author

Follow Me