Mencetak Generasi Tafaquh Fi al-Din Berprinsip Pada AL-Quran dan Sunnah

18 Nov 2011

Pesantren Persatuan Islam 109 Kujang Ciamis

Oleh : Abd. Rahman

Sebuah pesantren yang saat ini cukup besar berdiri kokoh di Kujang, Cikoneng, Ciamis, Jawa Barat. Lokasi yang bersih dan pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi membuat Pesantren Persis lebih nyaman indah dipandang. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Alumni Pesantren Persis Kujang, Ali Rasyid, Pesantren Persis 109 Kujang merupakan pesantren terbesar Persis di Ciamis. Dari beberapa daerah di Ciamis, pesantren ini terbesar dibanding Pesantren Persis yang lain, ujar Ali Rasyid.

Sementara salah satu dewan pengasuh di Pesantren Persis Kujang, kiai Anasah Qodarudin mengatakan yang menjadi ciri khas dari Pesantren Persis Kujang terletak pada penekanan menghafal al-Quran (tahfidz). Ciri khas dari Pesantren ini ya di tahfidzul Quran. Setiap santri harus menghafal al-Quran per-semester minimal tiga Juz. Ketika lulus nanti mereka paling sedikit hafal delapan belas juz. Tapi banyak santri yang hafalan al-Quran-nya lebih dari delapan belas juz,bahkan ada yang tiga puluh juz, kata Anasah kepada Pelita.

Hal serupa juga dikatakan Ali Rasyid di mana santri yang hafal al-Quran lebih dari yang ditargetkan lumayan banyak, ada santri yang mampu menghafal dua puluh juz, dua puluh lima juz, tiga puluh juz dan lain-lain. Ali Rasyid mengatakan program menghafal al-Quran wajib dan menjadi pra-syarat naik kelas. Sementara itu, Anasah menambahkan prestasi hafalan para santri telah mengantarkan mereka ke masa depan cemerlang. Ada beberapa santri yang mendapat beasiswa dari beberapa perguruan tinggi karena prestasi hafalan al-Quran. Ada beberapa santri mendapat beasiswa perndidikan karena hafal al-Quran, kata Anasah.

Jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Persis Kujang dimulai dari tingkat RA hingga Muallimin/SMA dan kelas takhasus (kelas Khusus), Raudlatul Athfal/TK, Diniyyah Ula/MI, Tsanawiyyah, Diniyyah Wustha (Persiapan Muallimin), Muallimin/MA, dan Takhasus (Kelas Khusus Hafalan Al Quran).

Bagi santri baru yang hendak masuk Muallimin/SMA tanpa melalui Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Persis Kujang, santri tersebut harus masuk kelas persiapan terlebih dahulu selama satu tahun untuk menyetarakan pengetahuan santri baru dengan santri lain. Pesantren Persis Kujang berusaha mematok standard tertentu untuk para santri agar lulusan Pesantren ini kelak siap memberi pencerahan di masyarakat.

Santri Pondok Pesantren Persis Kujang mendapatkan ijasah sebagai tanda kelulusan dari dua lembaga sekaligus, dari Departemen Agama dan Pengurus Pusat (PP) Persis. Hal ini karena kurikulum di Pesantren Persis Kujang merupakan perpaduan dua lembaga tersebut (Departemen Agama dan Persis). Bagi Pesantren Persis Kujang, kesuksesan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Oleh karena itu, yang menjadi slogan dari Pesantren ini adalah Pesantren Berstandard Dunia-Akhirat. Artinya, para santri dituntut untuk dapat bermanfaat yang seluas-luasnya untuk masyarakat dan dapat mengambil manfaat di akhirat kelak. Keshalehan individual harus berbarengan dengan keshalehan sosial.

Para santri di Pondok Pesantren Persis Kujang mempunyai sebuah wadah organisasi yang berfungsi menampung permasalahan-permasalahan aktual di masyarakat, kemudian dipecahkan dan dicarikan problem solving-nya. Kegiatan ini berlangsung setiap minggu malam atau malam senin. Organisasi ini juga berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang muncul di kalangan santri sendiri. Pemecahan masalah dilakukan berdasar referensi merujuk kitab-kitab turats dan argumen yang dikemukakan oleh para ulama. Kegiatan semacam ini ditopang oleh koleksi perpustakaan yang lumayan banyak dan kebanyakan koleksi di perpustakaan adalah buku-buku (kitab) berbahasa arab.

Santri juga mempunyai wadah organisasi berupa rijalul ghad dan ummahatul ghad. Organisasi ini sebetulnya mirip OSIS di sekolah-sekolah formal. Fungsi dari organisasi ini untuk mengembangkan skill, minat dan bakat santri, khususnya seni kepemimpinan (leadership). Melaui organisasi ini, para santri di Pesantren Persis Kujang berlatih untuk berdebat, adu argumen, melatih public speaking, belajar menulis dan lain-lain.
Sementara lulusan Pesantren ini banyak yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi Islam, baik di dalam ataupun di luar negeri. Di luar Negeri, para santri banyak melanjutkan studi ke daerah Timur Tengah, seperti Mesir, Libya, dan yang lainnya. Kerja sama secara tertulis antara Pesantren Persis dengan daerah Timur Tengah memang tidak ada. Tapi lulusan Pesantren ini banyak yang melanjutkan ke Mesir, Libya, Iran dan semacamnya, kata Ali Rasyid.

Sejarah Persis 109 Kujang
Pada tahun 1986, bapak Muhammad Nawawi, bapak Muhammad Tayudin dan kiai Saefudin berusaha merintis Pesantren Persis 109 Kujang sebagai lembaga pendidikan agama. Sejak awal berdirinya, Pesantren Persis 109 membuka Madrasah Diniyah di mana para santri berasal dari masyarakat sekitar. Pesantren ini berdiri berkat swadaya dari masyarakat sekitar.

Pada tahun 1989 KH. Saepudin berinisiatif mendirikan pesantren yang dapat menampung lulusan sekolah Dasar. Karena kiai Saefudin adalah seorang penghafal al-Quran (30 juz), maka pesantren yang beliau dirikan ketika itu lalu dinamakan Pesantren Tahfizhil Quran. Dengan harapan pesantren tersebut mampu mencetak generasi Hufazh al-Quran (generasi penghafal al-Quran). Pada awal pendiriannya, pesantren tersebut masih menggunakan sistem sorogan, yaitu sistem pendidikan pesantren tradisional.

Pada tahun 1990 pesantren tersebut mulai membuka diri dengan berbagai macam perubahan guna menjawab tuntutan zaman. Kemudian dirintis Madrasah Tsanawiyah dengan mengikuti kurikulum Departemen Agama Kabupaten Ciamis. Perintis Madrasah ini adalah Bapak Ii Suherli dan Bapak Toto Tobari. Namun agar cita-cita para pendiri pesantren ini dapat terus berlanjut, maka Madrasah Tsanawiyah yang dirintis itu kemudian diberi nama Madrasah Tsanawiyyah Tahfizhil Quran.

Karena tuntutan dari pelbagai pihak untuk membangun sebuah lembaga pendidikan yang lebih tinggi dari Madrasah Tsanawiyah, pada tahun 1995 didirikan Madrasah Aliyah dengan menginduk ke Departemen Agama dan terdaftar di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dan pada saat yang bersamaan, nomor pesantren 109 diturunkan oleh Organisasi Masyarakat Persatuan Islam (Persis). Lalu pesantren tersebut berganti nama menjadi Pesantren Persatuan Islam 109 Kujang. (abd rahman)

SUmber : http://www.pelitaonline.com/read-cetak/6391/mencetak-generasi-tafaquh-fi-al-din-berprinsip-pada-al-quran-dan-sunnah/


TAGS


-

Author

Follow Me