Mempersiapkan Santri Kuat Iman di Tengah Terjangan Arus Globalisasi

18 Nov 2011

Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cilandak, Jakarta Selatan

Oleh : Abd. Rahman

Suasana Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cilandak, Jakarta Selatan terlihat cerah di sore hari. Lokasi yang luas membuat Pesantren Miftahul Ulum ini kelihatan lebih elok dan cantik. Jika dilihat dari depan, Pesantren Miftahul Ulum terlihat agak kecil, tetapi jika masuk ke dalam, Pesantren ini sangat luas. Bangunan-bangunannya indah dan tertata rapi. Di samping itu, Miftahul Ulum berlokasi di daerah strategis di Jakarta Selatan di mana jarak Pondok Pesantren Miftahul Ulum dengan ITC Fatmawati kurang lebih tiga ratus meter.

Pesantren Miftahul Ulum menuai prestasi yang cukup membanggakan. Banyak sekali tropi dan piala berjejeran di kantor, menandakan bahwa Miftahul Ulum mencetak prestasi yang cukup memukau. Satu lemari yang kurang lebih panjangnya lima meter itu dipenuhi piala dan tropi. Tropi dan piala tersebut, menurut salah seorang TU diperoleh dari tingkat nasional, propinsi, kota dan kecamatan.

Menurut Muhyiddin, salah seorang pengasuh, para santri tidak akan kalah bersaing dengan lulusan sekolah formal. Hal ini terbukti lulusan Miftahul Ulum ada yang mendapat beasiswa di ITB yang notabene kampus umum. Ada pula santri yang mendapat beasiswa di Jurusan Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lebih lanjut Muhyiddin mengatakan belajar di pesantren memperoleh nilai plus dengan memahami ilmu agama yang tidak diperoleh anak-anak yang sekolah di sekolah formal.
Fasilitas yang tersedia di Pesantren ini lumayan lengkap. Di Pesantren Miftahul Ulum, terdapat empat gedung madrasah dengan 35 kelas, ruang belajar Full AC, laboratorium komputer dan sains (IPA), laboratorium bahasa (Arab dan Inggris), sport center berupa tennis meja, basket ball, dan volly. Terdapat pula perpustakaan yang lumayan lengkap dengan berbagai macam buku. Membaca bagi santri menjadi suatu keharusan untuk membuka cakrawala berpikir mereka. Di pesantren Miftahul Ulum juga terdapat free hotspot are.

Muhyiddin mengatakan, santri dipersiapkan agar kuat dalam hal iman dan pengetahuan mengahadapi globalisasi. Globalisasi, diakui atau tidak, membuktikan bahwa sesuatu yang bersifat duniawi lebih dominan. Kita ingin menguatkan para santri agar mereka dibentengi oleh cahaya iman dan mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, kata Muhidin kepada Pelita di Jakarta (27/10).

Pondok Pesantren Miftahul Ulum berusaha memadukan sistem pendidikan salafiyah dan modern. Pendidikan di pesantren ini juga dipecah menjadi dua, pendidikan formal mengikuti aturan Departemen Agama dan Madrasah Diniyah yang dikelola secara otonom dan independen oleh pesantren. Sekolah formal dimulai dari jam 07.00 hingga 12.30. Sedang sekolah Diniyah dimulai setelah shalat ashar hingga jam 21.00.

Jumlah santri yang menetap di Pesantren kurang lebih 300 orang di Pesantren Miftahul Ulum. Namun santri secara keseluruhan dengan yang tidak menetap, menurut Muhyiddin sebanyak seribu dua ratus orang. Pendidikan formal di Pesantren ini ada MTs dan MA. Sedang Madrasah Diniyah dari kelas satu hingga kelas enam. Menurut Muhyiddin, masing-masing tingkatan kelas mempunyai penekanan tersendiri dan standard minimal yang harus dipenuhi oleh setiap santri. Meski sudah kelas Madrasah Aliyah, jika standard kemampuannya rendah bisa masuk kelas satu, ucap Muhyiddin tegas.

Para santri ditekankan memahami Islam secara komprehensif dengan mengakses langsung terhadap sumber-sumber original dari Islam. Oleh sebab itu, ilmu alat (nahwu-sharraf) mendapat perhatian khusus. Menurut Muhyiddin, setiap santri diwajibkan menghafal nadzam alfiyyah karya Ibnu Malik yang banyak-nya seribu bait. Tidak hanya itu, penerapan ilmu alat tersebut melalui praktek baca kitab kuning secara langsung.

Menurut Muhyiddin, sistem modern di Pesantren Miftahul Ulum tidak kalah saing dengan pesantren yang secara khusus mengadopsi sistem modern. Para santri senang bicara bahasa arab dan bahasa inggris. Setiap minggu para santri diharuskan mengikuti program muhadharoh dengan menggunakan bahasa arab dan inggris. Skill bahasa semacam ini menjadi nilai plus ketika mereka akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Santri Miftahul Ulum juga banyak yang senang menghafalkan al-Quran meskipun Pesantren tidak mewajibkan. Menurut Muhyiddin, ada santri yang menghafalkan delapan juz, tiga juz dan lain-lain. Memang tidak ada kewajiban menghafal al-Quran. Tapi para santri banyak senang menghafal al-Quran. Di sini bukan pesantren tahfidz, jadi tak ada yang hafal tiga puluh juz. Tapi kalau ustadz dan ustadzah-nya ada, kata Muhyiddin.
Untuk melecut semangat santri agar terus maju dan berkembang, pesantren akhir tahun ini akan mengadakan study tour ke Pesantren Modern, seperti Pondok Pesantren Darus Salam Gontor. Harapannya, kegiatan semacam ini dapat menginspirasi para santri. Apa yang telah dicapai oleh pesantren lain, mereka juga dapat meraihnya. Dan apa yang pesantren lain tak miliki, kita tetap memiliki dan mempertehankannya, kata pengurus TU

Pesantren Miftahul Ulum sangat senang dengan wawasan kebangsaan dan ke -Indonesiaan yang telah Allah anugerahkan untuk Negeri ini. Acap kali Hari-Hari Besar Nasional, Pesantren Miftahul Ulum selalu menyampaikan semangat-semangat historis tersebut agar menggerakkan jiwa mereka untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Meski tidak diulas secara lengkap sejarah bung Tomo, para Pemuda 28 Oktober misalnya, tapi yang kita tekankan dan ingin kita tularkan kepada santri semangat dari peristiwa tersebut agar melekat dalam jiwa santri dan menjadi motor, penggerak dalam kehidupan mereka, kata Muhyiddin.

Muhyiddin juga menginginkan pesantren dapat maju dan berkembang supaya dapat bersaing tidak saja di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Muhyiddin miris dengan pandangan sempit sebagian masyarakat yang menjadikan pesantren seperti bengkel, jika barang rusak, baru ditempatkan di bengkel. Jika orang tua sudah tidak mampu lagi mendidik anaknya, kemudian ditempatkan di Pesantren. Begitu juga orang tua terkadang meletakkan anak-anak mereka yang IQ-nya paling rendah di Pesantren. Jika mobilnya sudah penyot semua, sebagus-bagusnya bengkel pasti tak akan mampu memperbaiki secara utuh seperti sedia kala. Begitu juga dengan anak. kata Muhyiddin. Muhyiddin berharap orang tua dapat meletakkan anak-anak terbaik mereka di Pesantren agar pesantren dapat unggul dan menebar manfaat di kemudian hari. (abd rahman)

Sumber : http://www.pelitaonline.com/read-cetak/5651/mempersiapkan-santri-kuat-iman-di-tengah-terjangan-arus/


TAGS


-

Author

Follow Me