Mitos Kesuksesan

5 Jul 2011

–Abd. Rahman Syaukani

Memasuki semester akhir kuliah bukan sesuatu yang sepele bagi sebagian orang. Banyak pertanyaan dihujamkan kepadanya. Dan untuk menjawab itu semua tidak semudah membolak-balik telapak tangan. Pertanyaan yang sering kali dilancarkan orang lain kepada mahasiswa semester akhir biasanya,setelah kuliah kerja di mana atau mau ngapain? Terminologi sukses pun bagi sebagian dari kita sangat problematik.
Kesuksesan sebagian orang identik sangat dengan kekayaan yang diraih atau pekerjaan yang didapat setelah lulus kuliah dan menyandang predikat gelar kesarjanaan. Tolak ukur seberapa sukses seseorang adalah seberapa bagus ia mendapat kesempatan menempati posisi-posisi tertentu di sebuah perusahaan sehingga duit deras mengalir ke rekeningnya.
Bagi orang-orang yang mendalami ilmu-ilmu sosial cara pandangnya tidak sesimpel deskripsi di atas. Mahasiswa yang concern di bidang ilmu-ilmu sosial perlu ruang aktualisasi diri mengembangkan kemampuan dan tidak hanya dijadikan sebagai robot-tobot bagi sebuah mesin perusahaan. Uang memang diperlukan setiap orang, tetapi tidak terlalu puas mendapat limbahan dana begitu besar jika ruang kreativitas dan pengembangan minat kemudian dipasung.
Salah satu teman saya bilang, lebih baik saya jadi wartawan atau pekerja LSM dengan gaji gak terlalu besar asal ruang kreativitas saya tetap bertahan. Saya rasa, ini pernyataan jujur dari salah seorang teman saya di mana ruang gerak kreativitas harus ditempatkan secara adil dan proporsional. Tujuan hidup manusia bukan sekedar menjadi pengumpul pundi-pundi emas lalu meninggal di telan sejarah. Sebaliknya, ada peran dan usaha kreatif manusia dalam mengarahkan dan meramalkan perubahan masa depan dan berupaya berkontribusi.
Lalu apa yang disebut sukses? Deskripsi soal standar dan tolak ukur kesuksesan seseorang dikaitkan dengan jabatan dan harta barangkali tidak terlalu salah. Sebab,manusia yang tidak tahu dengan pasti kepribadian seseorang cenderung melihat dari kulit luar saja. Secara materi sudah tercukupi apa belum. Ini merupakan standar awal yang menentukan sukses-tidaknya manusia,yang membedakannya dengan pengemis yang biasanya mereka uneducated. Hanya saja mematok dan memfinalkan indikator ini sesuatu yang terlalu tergesa-gesa.
Relativitas Kesuksesan
Cara terbaik dalam memandang manusiahemat sayadengan mengembalikan semuanya pada sang subyek. Artinya, kesuksesan bukan dipatok dari luar dan dipaksakan untuk diterapkan kepada setiap personal manusia. Sebaliknya, standard kesuksesan harus dikembalikan kepada sang subyek. Sebab, yang paling tahu sukses dan tidak-nya seseorang adalah yang menjalani hidup.
Setiap manusia have big dream dalam hidupnya. Standard kesuksesan sebetulnya seberapa besar mimpi-mimpi mereka tercapai. Bagi orang yang punya mimpi menjadi seorang penulis terkenal,umpamanya, patokan dan standard kesuksesannya seberapa banyak ia menulis dan menghasilkan karya hingga orang lain merasa terpukau dengan karyanya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Terlepas dari upaya spekulatif di atas, yang dimaksud kesuksesan sejatinya harus dibedakan dengan keberuntungan. Seseorang yang sedang tidur semaleman,tiba-tiba keesokan harinya ditelp salah seorang costumer service dan diberi tahu bahwa ia mendapat uang 300 juta karena memenangkan undian. Dalam konteks ini, tidak layak dimasukkan sebagai orang sukses.
Kesuksesan itu bukan datang secara tiba-tiba. Kesuksesan membutuhkan perencanaan strategis dari awal. Ada mimpi-mimpi besar yang coba diraih dan diwujudkan. Yang jauh lebih penting bukan tahap akhir tergapainya kesuksesan itu sendiri, tetapi proses bagaimana seseorang mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Dan mendapat 300 juta karena memenangkan undian datang secara tiba-tiba tanpa ada upaya dan usaha serius untuk menggapainya. Dalam konteks ini, ia tidak dapat digolongkan sebagai bentuk kesuksesan. Menurut anda bagaimana?


TAGS


-

Author

Follow Me