Menulis: Dari Pseudo Demokrasi Menuju Demokrasi Partisipatif

10 Apr 2011

Setelah lama tidak menulis,saya merasa lebih bodoh dan tambah dungu. Ini yang saya rasakan selama ini.

Menulis untuk mengasah kreativitas,kekuatan intelektual,kematangan emosi,dll. Tidak salah jika saya merasa hampa akibat tidak menulis. Dengan menulis,apa yang saya ketahui semakin lengket karena dengan menulis memory otak jalan.

Sekarang ini,menulis sungguh sangat dimanjakan. Betapa tidak,hanya dengan bermodalkan hand phone kita sudah bisa menulis. Dulu,menulis sesuatu yang sangat susah karena harus menggunakan mesin tik. Kedatangan komputer semakin mempermudah orang untuk menulis. Dan sekarang,menulis bisa di mana saja dan kapan saja,hanya dengan bermodalkan hand phone.

Meski demikian,tidak semua orang dapat menulis meski fasilitas sudah sangat memadai. Di saat fasilitas masih terbatas,kita dapat melihat tokoh besar lewat gagasan besarnya. Sebut saja Harun Nasution, Azyumardi Azra, Nurcholish Madjid,Hamka,dll. Namun di saat fasilitas kian lengkap. Akankah sosok2 besar dapat lahir?

Sebetulnya menulis bukan sesuatu yang susah. Menulis hanya membutuhkan komitmen dan niat. Jika dua hal ini terpenuhi,setiap orang dapat menjadi orang hanya dengan tulisan. Orang dikenal oleh siapa saja melalui tulisan dan gagasannya,meski ia sebetulnya tidak pernah bertemu dengan sang penulis. Orang dapat berkomunikasi melalui pikiran,meski tidak pernah melakukan interaksi secara fisik.

Pseudo Demokrasi Vs Demokrasi Partisipatif


kebebasan merupakan suatu hal yang niscaya dalam demokrasi. Menolak kebebasan berkreasi merupakan bentuk tirani sosial yang sejatinya dilawan. Kebebasan merupakan kunci bagi demokrasi. Dan kita harus berbangga hati karena kebebasan ini sudah dirasakan pasca rezim Soeharto. Potret yang paling nyata,adanya informasi yang cukup berimbang membuat demokrasi kita menuju ke arah yang lebih baik

Jika informasi hanya satu arah,yang terjadi bukan demokrasi. Tetapi sejenis totalitarianisme. Jika kita hidup di negara demokratis dan kebebasan menulis dan berkarya sengaja diarahkan,itu namanya pseudo demokrasi (demokrasi palsu)

Menulis merupakan panggilan jiwa. Setiap orang dapat menulis melalui sudut pandang masing-masing. Mereka dapat memotret kenyataan tidak hanya dari satu sudut pandang. Tapi dari banyak sudut pandang. Ini dapat memperkaya wacana sehingga realitas tidak hadir dalam bentuk monolistik. Artinya,perimbangan wacana menjadi penting agar dapat saling mengevaluasi


TAGS menulis kebebasan demokrasi


-

Author

Follow Me