Obama dan Masa Depan Indonesia

20 Mar 2010

79765099DE014_VOTING
Beberapa hari terakhir wacana publik diwarnai oleh kedatangan Obama ke Indonesia. Publik sudah sangat tahu bahwa terjadi perang wacana soal kedatangan Obama. Yang menolak kedangan Obama megatakan Obama hanya akan memperkokoh perrekonomian AS di Indonesia melalui perusahaan-perusahaan AS di negeri ini. Argemumen penolakannya ditambah karena Obama pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM) di Irak. Wacana penolakan ini dipelopori oleh kalangan Hizbut Tahrir Indonesia dan Front Pembela Islam (FPI).

Sementara yang menerimaa kedatangan Obama ke Indonesia dipelopori oleh pelbagai kalangan yang cenderung berpikir positif dengan melihat tantangan sebagai peluang. Salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiah dengan tegas menerima kedatangan Obama ke Indonesia. Argumen penerimaan ini bermacam-macam. NU berpandangan bahwa tamu sejatinya dihormati. Sebab, penghormatan terhadap tamu adalah bagian dari etika Islam. Argumen Muhammadiah tidak jauh berbeda dengan NU.

Menyingkap Misi Obama
Kecurigaan kelompok yang menolak kedatangan Obama karena asumsi bahwa Obama akan menghancurkan Negara Indonesia. Hal itu karena Obama tidak hadir untuk sekedar bernostalgia karena pernah tinggal di Jakarta. Obama membawa mewakili kepentingan Amerika Serikat. Pilihan Indoenesia sebagai Negara penting bagi Amerikamenurut kaum yang menolak Obamaadalah indikasi nyata betapa Amerika berusaha mengcengkram Indonesia.

Penandatanganan kontrak antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat dengan momentum kedatangan Obama, bagi kalangan radikal-konservatif membuat ketakutan tersendiri. Sebab, dalam paradigma mereka, Indonesia tidak lebih akan dijadikan sapi perahan Amerika serikat. Indonesia hanyalah lahan empuk untuk memperkaya Amerika.

Kekhawatiran di atas,hemat penulis terlalu berlebihan. Sebab, relasi Indonesia dan Amerika serikat berada pada hubungan kesetaraan. Setiap Negara mempunyai national interest. Kerja sama sudah dapat dipastikan mengedepankan kepentingan Negara masing-masing. Terlalu naf ketika SBY dianggap mengabaikan kepentingan Negara Indonesia dan menerima begitu saja kepentingan Amerika.

Hubungan kerja sama antar Negara adalah hubungan simbiosis mutualisme, relasi saling menguntungkan. Jika dianggap tidak sesuai dengan manfaat yang akan diterima oleh kedua belah pihak atau ada yang dirugikan, kerja sama bisa ditunda atau bahkan ditolak. Sebab, Indonesia mempunyai kebutuhan yang sama dengan negara lain. Beban ini terasa berat karena Indonesia memiliki penduduk yang jauh lebih banyak dibanding Negara-negara lain di Asia.

Menerima Obama menjadi suatu keniscayaan karena beberapa hal. Salah satunya, pencitraan nama baik Indonesia di mata dunia. Indonesia yang dikenal menegangkan karena kekacauan selalu terjadi di Indonesia,khususnya kasus terorisme, akan terbantahkan dengan kedatangan Obama ke Indonesia. Dunia internasional akan menganggap Indonesia mampu mengamankan para pelaku terorisme dan tetap mampu menjaga keamanan bangsa dan Negara. Pencitraan semacam ini sangat penting mengingat Indonesia membutuhkan Negara lain untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi, baik yang berkaitan dengan fasilitas jasa atau murni aktivitas ekonomi.

Kedua, kunjungan Obama ke Indonesia adalah hubungan diplomatik. Penulis sebetulnya agak kecewa dengan argumen-argumen yang dikemukakan terkait pro-kontra di atas, dengan mangaitkan kedatangan Obama dengan argument keagamaan. Padahal, Obama tidak dalam kapasitas juru bicara agama yang harus dicarikan dalilnya di dalam agama. Sebaliknya, Obama membawa misi kenegaraan yang sejatinya dicarikan argument kenegaraan pula. Teori sekuarisasi atau pemisahan agama dan Negara sudah lama mengakar di tubuh bangsa. Tapi kenapa mereka masih tidak bisa keluar dari perdebatan semacam ini?

Dalam momentum kali ini, Indonesia seharusnya berusaha mengambil kesempatan untuk menaikkan nilai tawar Indonesia di mata dunia. SBY selaku eksekutif sangat wajar mencoba menawarkan sesuatu kepada Obama guna menjalin kerja sama lebih jauh antara Indonesia-AS. SBY tidak saja menerima tawaran Obama. SBY harus berani menawarkan somethink kepada Obama agar national interest Negara kita terpelihara.

Menolak Obama memang sungguh tidak menguntungkan dalam konteks hubungan diplomatik kenegaraan. Sebab, dalam konteks Negara modern, yang dikedepankan adalah partnership, bukan mencari permusuhan. Semakin banyak mitra kita, potensi menciptakan tantangan menjadi peluang semakin besar. Hanya Negara yang mentalitasnya lemah yang under-estimate yang selalu mencari permusuhan, selalu dihinggapi ketakutan-ketakutan.

Menakar Posisi SBY
Pertanyaan sederhana timbul ketika melihat perdebatan kedatangan Obama ke Indonesia. Bagaimana posisi SBY dalam perdebatan ini? Dipastikan jawaban sederhananya SBY menerima kedatangan Obama. Namun tidak cukup jawaban semacam ini karena SBY memegang peranan sentral dalam konteks hubungan Indonesia-AS. Apakah SBY benar-benar memperjuangkan national interest negeri ini? Apa yang akan dilakukan SBY jika ia benar-benar akan memperjuangkan kepentingan negeri kita?

SBY sejatinya mampu melihat ke depan, tantangan sekaligus harapan bangsa ini. SBY harus mempu membaca sejauh mana kreativitas komponen masyarakat guna memasuki pasar global. Apa saja yang dapat dipromosikan Indonesia untuk dilempar ke pasar internasional. SBY harus mampu membaca kelemahan dan kekuatan Indonesia agar mampu memposisikan diri dalam menjalin kontrak dengan AS dan Negara lainnya. Pengetahuan akan kelemahan dan kekuatan tidak hanya didasarkan pada asumsi,tapi hasil penelitian atau observasi di lapangan. Indonesia sudah saatnya menatap masa depan. Menurut anda bagaimana?
Abd. Rahman


TAGS Karya


-

Author

Follow Me