Menggaungkan Peradaban

Menumbuhkan Optimisme dan Rasa Percaya Diri di Kalangan Santri


Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura

Pondok pesantren Al-Amien Prenduan merupakan Pesantren modern di mana para santrinya wajib berbciara bahasa arab dan inggris. Yang menarik dari Pesantren ini, para santrinya dididik untuk percaya diri dan optimis menatap masa depan. Di Pesantren Al-Amien, para santri diberi ruang untuk berkontestasi dalam kebaikan.

Semangat kompetisi berhasil menumbuhkan optimisme dan rasa percaya diri di kalangan santri Al-Amien. Para santri tidak under estimate bergaul dan berhadapan dengan siapapun, termasuk berkompetisi dalam sejumlah perlombaan. “Orang di luar kita menganggap anak-anak Al-Amien sangat percaya diri, ya itu kita terima secara positif karena kegiatan pesantren mengarahkan santri memiliki kemampuan dan keterampilan,” ungkap guru senior pondok pesantren Al-Amien ustadz Hamzah kepada Pelita, Kamis (26/04).

Banyak kegiatan di Pesantren ini mengarahkan para santrinya percaya diri dan optimis dengan apa yang diketahui dan mereka inginkan. Salah satu kegiatan santri adalah khitobah, puisi, drama, seni musik, teater, pramuka dan sejumlah kegiatan lainnya. Berbekal optimisme dan rasa percayda diri ini, banyak sekali santri Al-Amien berkiprah di berbagai ajang kompetisi, baik lokal atau tingkat nasional. Sejumlah medali dan penghargaan lainnya berjejer memenuhi kantor Pesantren. “Jika tidak dalam kondisi terdesak, kami selalu kirimkan delegasi jika ada perlombaan, baik lokal atau nasional,” ucap Hamzah.

Santri Al-Amien terbiasa melakukan latihan public speaking di hadapan ratusan santri, dengan aneka ragam dan bentuk kegiatan. Kepercayaan diri santri Al-Amien ditempa oleh kegiatan-kegiatan yang menuntut mereka percaya diri. “Santri memang dididik untuk mengekspresikan apa yang mereka senangi. Pesantren lain tidak memperbolehkan menggunakan alat musik. Kita membolehkannya selama itu positif,” tutur Hamzah.

Hamzah menuturkan bahwa Pesantren AL-Amien memberi penekanan pada aspek bahasa. Program-program Pesantren mengacu pada penguasaan bahasa, seperti program english week,, usbu’ul lughah (pekan bahasa arab), pidato bahasa arab, Indoensia dan inggris, demonstrasi bahasa, semarak tiga bahasa (STB) dan kegiatan lainnya.

Sementara kegiatan di Pesantren Al-Amien secara garis besar terbagi ke dalam dua bagian, program wajib dan pilihan. Kegiatan wajib Pesantren wajib diikuti semua santri. Kegiatan wajib Pesantren antara lain, belajar di kelas, shalat berjamaah, bicara bahasa arab dan inggris, baca kitab kuning, mengaji al-Qur’an, dan aktif dalam kegiatan kesantrian. “Program wajib Pesantren belajar di kelas, shalat berjamaah, bicara bahasa arab dan inggris, baca kitab kuning, dan kegiatan kesantrian yang sifatnya pembekalan dan pengembangan skill.”

Selain kegiatan wajib, santri Pesantren Al-Amien dapat memilih kegiatan yang mereka senangi. Para santri dididik mengetahui minat dan interest mereka sehingga kegiatan mereka dapat menjadi semacam investasi untuk masa depan. “Kegiatan pilihan santri berupa seni bela diri, musik,kesenian, olah raga, kursus klub bahasa, pecinta alam, merching band, sastra dan jurnalistik,. “

Di Pesantren Al-Amien, membaca buku mendapat perhatian serius untuk mendidik para santri senang membaca. Santri yang mempunyai banyak buku mendapat nilai plus dan diapresiasi langsung pihak Pesantren. Pesantren Al-Amien yakin bahwa buku adalah jendela dunia. Melalui buku, tumpukan pengetahuan dapat diperoleh.“Ciri khas santri AL-Amien, salah satunya dengan bawa buku kemanapun mereka pergi. Santri yang tidak bawa buku melanggar peraturan dan dapat sanksi dari Mahkamah Qanun. Setiap tahun diadakan pengecekan buku, “kata Hamzah

Guna memfasilitasi para santri, Pesantren AL-Amien menyediakan fasilitas Pesantren berupa laboratorium biologi, laboratorium MIPA, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa agar proses belajar-mengajar lebih efektif dan efisien. Selain itu, dalam proses belajar-mengajar di kelas, Pesantren ini menggunakan LCD untuk mempermudah dan sistematisasi. Santri juga diperbolehkan membawa laptop tapi hanya dapat digunakan pada hari-hari tertentu. “Laptop harus dititipkan dan bisa digunakan untuk waktu-waktu tertentu,” tambahnya.

Makna modern

Hamzah mengatakan bahwa kata modern bagi Pesantren Al-Amien tidak kemudian meninggalkan sisi-sisi tradisionalisme pesantren klasik di mana santri bergelut dengan kita kuning sehingga pemahaman mereka terhadap ilmu-ilmu agama mendalam. Pesantren al-Amien mendidik para santrinya dengan pemahaman kitab-kitab klasik, tapi juga akomodatif terhadap perkembangan zaman. “Kata modern yang kita pahami itu tidak meninggalkan tradisionalisme pesantren, tapi juga mengambil sesuatu yang baru dan dianggap baik dari perkembangan zaman,” kata ustadz Hamzah.

Semangat kemodernan Pesantren Al-Amien juga ditunjukkan dengan pengelolaan administrasi pesantren yang baik. Yang menarik, menurut Hamzam, sisi kemodernan di Pesantren Al-Amien diterjemahkan dalam bentuk nyata dalam hal pengelolaan pesantren. Kepemimpinan di Pesantren ini lebih bersifat kolektif kolegial dan tidak dimiliki secara turun temurun sebagaimana dalam pesantren tradisional. Siapapun bisa menjadi pimpinan pesantren selama memenuhi persyaratan karena pesantren tidak dimiliki oleh satu kiai atau satu pengasuh yang dapat diwariskan secara turun temurun.

“Kemodernan Pesantren Al-Amien dapat dilihat langsung dalam kepemimpinan pesantren yang tidak dimiliki oleh perseorangan, tapi lebih bersifat kolektif kolegial. Siapapun saja selama menjadi bagian dari Pesantren AL-Amien dapat menjadi pimpinan pesantren asal memenuhi persyaratan,” ungkapnya.

Ia mengkritik pemahaman sebagian masyarakat yang mengatakan pesantren modern tidak mengarahkan santri tahu pengetahuan agama secara mendalam. Ia juga tidak setuju jika modern diartikan serba berkiblat ke Barat. “Tidak benar pesantren modern itu tidak mendidik santri mengetahui agama secara mendalam. Begitu juga pemahaman yang keliru jika modern diartikan serba ke Barat-baratan,” pungkasnya.

(Abd Rahman/Pelita)

Tulisan ini dimuat di Harian Pelita, Jumat (04 Mei 2012)

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn

Mungkin Benar Cinta itu Gila


Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak mengerti apa arti komitmen. Yang saya tahu saya jatuh cinta pada dua hati yang tak bisa dipertemukan, juga tak bisa dipertukarkan. Saya berkomitmen pada keduanya. Tapi bagi logika publik, itu justru tak berkomitmen pada semuanya. Bagaimana mungkin seseorang harus mencintai dua hati dalam waktu bersamaan dan berkomitmen untuk menjalin tali kasih yang diikat oleh cinta dan kasih sayang. Jaman sekarang, poligami memang tak pantas karena akan menyakiti keduanya, bukan meneduhkan semuanya. Aku tak bermaksud poligami. Tapi aku tak bisa meninggalkan semuanya, bukan karena tamak. Tapi karena perasaanku lebih dari sekedar kedekatan pertemanan atau perkawanan. Ada perasaan dan tali kasih yang jauh melompat ketimbang hanya sebatas pertemanan. Aku juga tak mengerti kenapa Tuhan mengikat hatiku pada dua hati yang sebetulnya saling meniadakan, bukan saling melengkapi.

Aku hanya berpikir, andai saja dua karakter perempuan yang aku cintai ini dapat menyatu dalam satu sosok perempuan, aku mungkin akan lebih bangga hidup di dunia ini ketimbang dimasukkan ke surga yang tanpa ridha-Nya. Aku mungkin akan menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini karena tercipta sebagai orang beruntung yang mempunyai sosok perempuan yang tak ubahnya adalah malaikat surgawi. Tapi sayang, karakter-karakter itu terpisah ke dalam dua sosok perempuan. Antara yang satu dengan yang lainnya saling meniadakan, saling membasmi.

Memang tak mudah menjelaskan apa yang aku rasakan ini pada publik secara umum karena mereka terbiasa dengan logika umum yang seakan serba matematis, meski kehidupan bukan angka matematika. Aku sadar memang tak mungkin mendapati dua perempuan itu karena harus dibenturkan dengan perasaan yang saling meniadakan. Meskipun dua sosok perempuan ini bersepakat untuk saling menopang dan melengkapi, aku tak punya niatan sama sekali untuk berpoligami. Bagiku, poligami adalah hal yang harus dijauhi, meskipun ajaran agama yang aku anut tidak mengharamkannya. Bagiku, hanya ada satu perempuan yang akan menerangi cahaya kehidupanku.

Pada akhirnya, karena dua hati tak mungkin disatukan atau kalau pun bisa disatukan, tidak akan membuahkan kebahagiaan sejati, aku dituntut untuk memilih salah satu dari keduanya. Pilihan dan keputusan memang tak akan memuaskan semua orang. Tapi setidaknya pilihan itu meneguhkan sikap kita selaku manusia yang punya keterbatasan. Pilihan mengukuhkan prinsip kita dalam hidup. Pilihan menguatkan hati dan komitmen. Karena walau bagaimanapun, apalah arti sebuah komitmen jika ‘membunuh’ dan menyakiti dua hati yang sebetulnya sangat aku cintai. Apalah sebuah komitmen jika pada akhirnya harus membuahkan darah dan air mata.

Jika harus memilih, berarti harus ada satu orang yang secara sengaja aku sakiti demi membahagiakan kekasihku yang lain. Kebahagiaan kekasihku ini secara otomatis harus menginjak tubuh perempuanku yang satunya. Kebahagiaan kekasihku ini dibangun di atas penderitaan orang lain. Tapi inilah hidup karena aku tak mungkin membelah diri menjadi dua bagian.

Mungkin narasi di atas bagi sebagian orang terlalu hiperbolis sehingga menganggap hanya ada aku dan dua kekasihku yang sangat aku cintai di dunia ini. Padahal, laki-laki dan perempuan bertaburan di jagat raya ini. Banyak pilihan dihidangkan. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyombongkan diri. Yang saya tahu, dua perempuanku ini sama-sama ngotot mempertahankan diriku untuk meraih cinta sejati mereka. Bagi mereka, aku adalah kekasih sejatinya yang harus dipertahankan.

Bagi sebagian orang kenyataan ini mungkin tak mungkin. Tapi inilah yang terjadi padaku. Perempuanku yang satu pernah aku akan jadikan adek. Tapi dia mati-matian mempertahankan cintanya padaku. Bahkan, dengan tegas ia katakan,boleh nikah sama orang lain asal jangan tinggalkan dirinya. Dia rela ‘membakar diri’ demi mempertahankan cintanya padaku. Hal yang sama juga terjadi pada cewekku yang lain. Meski aku sudah bilang akan segera menikah dengan kekasihku, cewekku ini tetap menaruh harapan besar padaku.

Pada satu sisi aku bangga karena ada dua perempuan yang tulus mencintai diriku apa adanya. Akan tetapi aku juga merasa sebagai laki-laki paling rendah karena tak bisa membahagiakan orang-orang yang aku cintai dan dua perempuan yang mencintaiku. Aku hanya mampu tebar pesona tapi tak mampu membahagiakan mereka yang sudah terlanjur catuh cinta padaku. Aku sampai pada pertanyaan, kenapa Tuhan membuat skenario semacam ini pada hidupku? Bukankah cinta dan kasih sayang juga berangkat atas idzin-Nya? Kenapa Tuhan mengidzinkan mereka mencintaiku denagn jalan seperti ini? Dan kenapa aku harus mencintai dua hati yang tak bisa disatukan?

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn

Catatan Kecil Diskusi Ekonomi Islam


Mengikuti diskusi panel tentang “bank syariah di Indonesia dalam merespon tantangan ekonomi global” di universitas Bakrie. Saya hanya mengerti beberapa apa yang para pembicara ungkap. Saya menyadari kapasitas bahasa inggris saya masih kurang memadai.

Tapi yang saya pahami, diskusi ini membincang ekonomi Islam dan optimis ekonomi Islam dapat berkembang di masa yang akan datang. Pertanyaannya kemudian, benarkah itu ekonomi Islam bebas dari transaksi konvensional?

Pertanyaan itu pasti tidak mudah dijawab. Tapi,kenyataan di masa lalu menunjukkan bahwa ekonomi Islam masih bersentuhan dengan saham,bank dan transaksi konvensional. Hal itu mungkin ekonomi Islam belum kuat sehingga jika ingin menunjukkan eksistensinya, mau tidak mau ia harus bersentuhan dengan sistem ekonomi konvensional.

Tapi ke depan, ketika ekonomi Islam sudah establish dan kuat, tidak menutup-kemungkinan ekonomi Islam akan mandiri dan mampu menjalankan sistem ekonominya sendiri tanpa campur tangan sistem ekonomi konvensional.

Saya juga menduga, keinginan investor asing yang berasal dari dunia Barat itu, mungkin karena sistem ekonomi yang mereka terapkan tidak mampu menjawab kebutuhan yang ada. Sistem ekonomi global saat ini merugikan yang lain dan menguntungkan lebih banyak golongan tertentu.

Hal ini bisa dilacak dari saham dan perdagangan mata uang (forex-index) konvensional yang hanya bergerak di pusaran pencarian keuntungan semata dan mengabaikan pertumbuhan ekonomi di sektor ril. Anehnya, ekonomi semacam ini malah dijadikan patokan pertumbuhan ekonomi ril di masing-masing Negara.

Sistem ekonomi semacam ini, kalau dalam Islam lebih dihukumi sebagai praktek riba. Saya tak tahu persis bagaimana beroperasinya perdagangan mata uang seperti forex dan index. Tapi ketika ada yang menang, maka ada yang kalah. Beberapa ulama’ berpandangan dengan tegas menyatakan hal semacam itu sebagai praktek judi.

Sementara dalam ekonomi Islam berusaha mempraktekkan kerangka etik-moral agama di dalam menjalankan roda ekonomi. Hubungan antara pemberi modal dan pelaku usaha adalah simbiosis mutualisme. Jika pelaku usaha mendapat keuntungan besar, maka pemodal mendapat keuntungan yang besar pula. Begitu juga sebaliknya. Sistem semacam ini oleh Islam kemudian disebut sebagai mudharobah (sistem bagi hasil).

Paling tidak, transaksi semacam ini dapat dilakukan di sistem ekonomi syariah dalam kontek perbankan. Berbeda dengan sistem ekonomi konvensional yang tidak mau tahu kondisi ril pelaku usaha dan tidak mau mengerti pemberi modal. Sebab,angka keuntungan atau jumlah pembayaran sudah dipatok lebih dahulu dalam sistem ekonomi konvensional. Padahal, usaha itu tidak seperti angka matematis yang angkanya bisa dipatok dengan mudah dan pasti

Saya bukan ahli ekonomi. Tapi obrolan saya dengan Direktur Bank Syariah Mandiri sedikit banyak memberi suntikan informasi kepada saya. Ekonomi apapun yang akan survive ke depan, menurut saya, yang mampu mengakomudasi kepentingan pemilik modal dan pelaku usaha secara proporsional dan seimbang

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn

Santrinya Banyak Menjadi Penulis


Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura

Pesantren Annuqayah telah melahirkan banyak santri yang mampu menorehkan buah pikiran mereka dengan tinta emas kanvas peradaban. Mereka menjadi penulis kreatif dan sering memenangkan lomba jurnalistik, baik tingkat lokal atau nasional. Melalui modal tulisan, beberapa santri Annuqayah mendapat beasiswa. Bahkan beberapa dari mereka menjadikan kekuatan pikiran dan tulisan sebagai sumber penghasilan, menjadi penulis buku, kontributor tulisan di media atau menjadi penerjemah.

Tentu saja prestasi dan kebiasaan menulis santri ini dimulai sejak mereka nyantre di Pesantren. Salah satu deretan nama alumni Annuqayah yang sukses menjadi penulis adalah Mohammad Musthofa, M. Faizi L. Kaelan, Khodri Ariev, Maimun Syamsuddin, Jamal D. Rahman ,Zuhaidi RB, Zaiturrahim RB, Achmad Fawaid, Mohammad Fayyadl, Badrus Shaleh, Ahmad Badrus Shalihin, Abdurahman, Fawaidurrahman,Wildan Hefni, Mohammad Takdir Ilahi, dan yang lainnya.

Pada awal tahun 2012 ini, alumni Annuqayah, Wildan Hefni meraih penghargaan sebagai santri produktif dari Kementrian Agama. Penghargaan tersebut diperoleh Wildan Hefni bukan tanpa alasan. Santri Annuqayah yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang ini mengatakan kepada Pelita dirinya mengirimkan tulisan-tulisan yang sudah dimuat di koran, baik lokal atau nasional ke Kementrian Agama. Jumlah tulisan yang dikirim sebanyak 120 tulisan dan bersaing dengan santri-santri lain yang juga berprestasi se-Indonesia, baik di dalam dan luar negeri.” Saya kirim sekitar 120 rekap tulisan saya yang selama 2 tahun telah dimuat di Koran,” ujar Wildan kepada Pelita baru-baru ini.

Selain Wildan, santri Annuqayah yang beberapa kali memenangkan lomba jurnalistik adalah Mohammad Takdir Ilahi. Takdir pernah meraih juara Ahmad Wahib Award, pemenang lomba LKTI tingkat nasional, pemenang lomba penulisan esai “Islam dan Terorisme,” STAIN Purwokerto, dan masih banyak lagi deretan prestasinya di dunia kepenulisan. Di samping aktif mengikuti lomba-lomba, tulisan-tulisan Takdir juga banyak tersebar di berbagai media, baik cetak maupun online, dari skala lokal dan nasional.

Sementara alumni Pesantren Annuqayah yang menjadi penulis buku antara lain Mohammad Fayyadl, Mohammad Takdir Ilahi, Jamal D Rahman, Faizi, dan lain-lain. Dan santri yang menjadi penerjemah antara lain, Maimun Syamsuddin, Khodri Ariev, Achmad Fawaid,dan yang lainya. Prestasi santri dan alumni Annuqayah semacam ini tentu sangat ditopang oleh kultur Pesantren sejak mereka nyantri di Annuqayah.

Meskipun Annuqayah secara institusional tidak memberi penekanan khusus tentang kepenulisan, tapi Annuqayah sejak lama telah mempunyai kultur di ranah ini. Di bidang kepenulisan, banyak sekali klub menulis Pesantren Annuqayah, baik sastra atau ilmiah dan tulisan populer. Masing-masing daerah di Pesantren ini mempunyai klub menulis tersendiri. Banyak diklat dan workshop kepenulisan digelar dengan mendatangkan para tokoh dan pakar. “Yang ngisi diklat atau workshop jurnalistik biasanya sastrawan, wartawan dan para pakar, seperti D Zawawi Imron (sastrawan), Abrari (wartawan) dan tokoh lainnya,” ucap Mohammad Musthofa selaku pengasuh muda Annuqayah.

Mohammad Musthofa yang merupakan lulusan UGM Jogja ini mengaku menulis, baginya, bagian dari kehidupan yang tak bisa dihindari. Di Annuqayah, Mohammad Musthofa salah satu pelopor lahir dan berkembangnya dunia kepenulisan. Sekarang ini Musthofa dan LPM Instika Annuqayah didukung oleh santri-santri mendorong efektivitas pemberitaan tentang Annuqayah. Hampir tidak ada kejadian di Annuqayah yang lepas dari pantauan dunia kepenulisan. “Blog Annuqayah di update setiap hari. Meski berbentuk blog, tapi manfaatnya kan sangat besar. Dan sekarang ini sudah lumayan banyak santri yang mengirimkan berita dari berbagai daerah di Annuqayah,” tegas Musthofa

Selain blog yang dikelola secara serius, Annuqayah juga mengembangkan penulisan dan penerbitan mading, majalah, tabloid dan buletin. Beberapa daerah di Pesantren ini masing-masing mempunyai majalah tersendiri, seperti Annuqayah Latee memiliki majalah Al-Afkar dan buletin Variez, daerah Lubangsa Raya majalah Muara dan Lubangsa Selatan Tabloid Akselerasi. Di tingkat pendidikan formal, khususnya di MA atau sederajat penerbitan majalah atau buletin juga digenjot dan ditingkatkan agar santri dapat mengembangkan skill menulis mereka. “MA Tahfidz memiliki majalah Infitah dan terbit setiap 2 minggu sekali,” tegas Abdurahman Ali selaku TU MA Tahfidz kepada Pelita, Rabu (25/01).

Dunia kepenulisan di Pesantren ini didukung oleh koleksi buku-buku di masing daerah dan di Perpustakaan Annuqayah Pusat yang lumayan kaya dan memadai. Setiap bulan Annuqayah menambah buku-buku baru untuk koleksi perpustakaan. Perpustakaan di Annuqayah juga ada di setiap jenjang pendidikan formal, mulai dari Madrahsah lbtidaiyah hingga Perguruan Tinggi.

Pada prinsipnya, Pesantren Annuqayah hanya sebatas wadah kecil dan terbatas yang tidak mungkin mencetak santri menjadi ahli dan profesional. Sebaliknya, profesionalitas santri dalam hal-hal tertentu akibat pengembangan mereka sendiri. Annuqayah hanya memberi kebebasan kepada para santri untuk menentukan minat dan bakat mereka dan mengembangkannya sendiri, baik melalui proses personal-individual atau melalui kegiatan ekstra kerikuler Pesantren.

Ada banyak sekali kegiatan ektra kurikuler di Pesantren Annuqayah , salah satunya; jam tyatul qurra, kursus menjahit, sanggar seni, fotografi, kursus mengetik dasar, kursus komputer, olahraga, pramuka, organisasi, sanggar sastra, dan lain-lain. Bagi santri, meski mereka tidak difasilitasi secara lengkap dan diarahkan seperti di pesantren-pesantren modern, tapi kebebasan dan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan bakat dan minat sudah lebih dari cukup.

Maka tak heran banyak seakali prestasi santri Annuqayah, mulai dari prestasi di dunia kepenulisan, pidato, puisi, karikatur, kaligrafi, debat dan yang lainnya. “Salah satu santri Annuqayah yang baru-baru ini mendapat penghargaan sebagai santri teladan dari Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) UIN Malik Ibrahim Malang adalah Dewi Nurhayati, alumnus Posantren Annuqayah Latee,” ucap Musthofa

Pesantren Annuqayah mempunyai beberapa daerah dan setiap daerah memiliki otoritas dan kebebasan penuh dalam pengelola daerahnya masing-masing. Daerah-daerah di Annuqayah antara lain, daerah Latee, Nirmala, Lubangsa Raya, Lubangsa Selatan, al-Furqan, Kebun Jeruk, Sawajarin, Kusuma Bangsa, dan lain-lain. “Penekanan di setiap daerah tergantung kebijakan daerah masing-masing, ada daerah yang lebih mengutamakan ilmu fikih, ilmu hadist, wawasan ke-modern-an dan semacamnya. Meski begitu, daerah-daerah di Annuqayah tetap satu-kesatuan di bawah Yayasan Annuqayah, ” tutur Musthofa lebih lanjut.

Meskipun Pondok Pesantren Annayuqayah terpecah menjadi beberapa daerah, dalam hal pengelolaan pendidikan formal mulai dari tingkat TK, MI, MTs, MA hingga perguruan tinggi dikelola bersama oleh Yayasan Annuqayah dan kebijakan-kebijakan strategis tentang Annuqayah regulasinya diputuskan di tingkat Yayasan. Para santri dari pelbagai daerah, melalui pendidikan formal, dapat saling kenal dan saling bretemu.

Jenjang Pendidikan formal di Pesantren ini mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Untuk tingkat TK, Ml dan MTs, di Annuqayah belum ada penjurusan karena belum dianggap penting. Penjurusan di Pesantren ini dimulai dari tingkat MA/Sederajat hingga perguruan tinggi. Sementara fasilitas penunjang belajar-mengajar yang tersedia di Annuqayah,salah satunya berupa laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium IPA, perpustakaan daerah dan pusat. (Abd Rahman)

Tulisan ini dimuat di Harian Pelita, Jum’at (27 Januari 2012)

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn

Kebebasan : Sebuah Catatan Harian


Sewaktu saya nonton bola di Gelora Bung Karno semi final antara Indonesia dan Vietnam, supporter dengan bebas mengekspresikan diri mereka tanpa ada rasa takut sedikitpun. Saya yakin sebelum Indonesia ini merdeka, kebebasan semacam ini tak mungkin diperoleh. Hemat saya, kebebasan mengekspresikan diri yang menggelitik orang seperti Hatta, Soekarno, Tan Malaka dan yang lainnya untuk merebut kemerdekaan meski dengan darah dan air mata sebagai kompensasinya.

Kebebasan itu mahal harganya. Demi memperoleh kebebasan, Indonesia rela berjuang menggadaikan ‘nyawa’ melawan imperialisme kolonial Belanda agar mereka dapat merasakan aura kebebasan. Orang memaknai kebebasan macam-macam. Bagi saya, kebebasan itu berbeda dengan keliaran. Kebebasan itu tidak kemudian menghalalkan segala hal. Dalam kaca mata sebagian orang, kebebasan seram dan menakutkan karena berujung pada tindakan free sex, melawan norma agama dan sosial, dan semacamnya.

Saya bagian dari orang yang percaya bahwa kebebasan itu bagian terpenting dalam hidup. Hal ini karena hanya dengan kebebasan kita dapat membentuk diri, mengekspresikan segala bentuk potensi diri, mengembangkan minat dan bakat. Bisa dibayangkan jika seseorang dalam hidupnya didikte oleh orang lain. Prilaku dan cita-cita ditentukan orang lain. Di mana rasa kemanusiaan kita yang utuh? Saya pikir orang yang didikte itu separuh dari kemanusiaan mereka hilang. Sebab, mereka tak dapat menggunakan anugerah terbesar yang Tuhan berikan berupa akal dan pikiran.

Akal dan pikiran akan sangat berguna ketika aura kebebasan diberikan. Dengan akal pikiran, kita bebas mencari dan menganalisa mana yang baik dan yang buruk. Melalui akal pikiran, manusia dapat mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya sehingga ia dapat berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Tuhan memberikan akal pikiran kepada manusia agar ia menjadi makhluk terbaik dibanding makhluk Tuhan lainnya. Melalui semangat kebebasan inilah, masa depan dunia Tuhan titipkan kepada manusia dan tak dititipkan kepada malaikat yang ‘penakut’ dan hhanya tunduk kepada Tuhan.

Apa manusia tak bisa menjadi ‘malaikat’? jika manusia tak dapat seperti malaikat, Tuhan tak mungkin menitipkan amanah sebagai khalifatullah fi-al ardl kepada manusia. Tuhan tahun bahwa dengan semangat kebebasan manusia dapat menjalani takdir mereka sendiri. Kebebasan manusia dapat mengembangkan peradaban dan mendorong kemajaun. Sejarah membuktikan betapa ketidak-bebasan sebagaimana abad pertengahan di Barat menciptakan mala petaka kemanusiaan, bukan peradaban yang diraih, tapi kebiadaban dan menentang kemanusiaan.

Dalam tradisi Islam juga tak dapat dipungkiri betapa arah dan visi sakral yang dipaksakan berujung pada penistaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Betapa tidak, kasus yang menimpa Imam bin Hambal, salah satu ulama’ madzhab fiqh, hampir dimutilasi gara-gara faham yang dipaksakan, faham mu’tazilah. Tapi dengan semangat kebebasan dan kecerdikan, Imam bin Hmabal selamat dari ancaman besar itu.

Kebebasan dapat melahirkan kecerdikan, kedewasaan dan mengarahkan kita sebagai pribadi yang utuh menjadi manusia. Kebebasan mahal harganya karena terkait dengan kualitas kita sebagai manusia.

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn

Mencetak Generasi “Tafaquh Fi al-Din” Berprinsip Pada AL-Qur’an dan Sunnah


Pesantren Persatuan Islam 109 Kujang Ciamis

Oleh : Abd. Rahman

Sebuah pesantren yang saat ini cukup besar berdiri kokoh di Kujang, Cikoneng, Ciamis, Jawa Barat. Lokasi yang bersih dan pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi membuat Pesantren Persis lebih nyaman indah dipandang. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Alumni Pesantren Persis Kujang, Ali Rasyid, Pesantren Persis 109 Kujang merupakan pesantren terbesar Persis di Ciamis. “ Dari beberapa daerah di Ciamis, pesantren ini terbesar dibanding Pesantren Persis yang lain,” ujar Ali Rasyid.

Sementara salah satu dewan pengasuh di Pesantren Persis Kujang, kiai Anasah Qodarudin mengatakan yang menjadi ciri khas dari Pesantren Persis Kujang terletak pada penekanan menghafal al-Qur’an (tahfidz). “Ciri khas dari Pesantren ini ya di tahfidzul Qur’an. Setiap santri harus menghafal al-Qur’an per-semester minimal tiga Juz. Ketika lulus nanti mereka paling sedikit hafal delapan belas juz. Tapi banyak santri yang hafalan al-Qur’an-nya lebih dari delapan belas juz,bahkan ada yang tiga puluh juz,” kata Anasah kepada Pelita.

Read the rest of this entry »

Share and Enjoy:
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • YahooMyWeb
  • LinkedIn